Itinerary Eurotrip 2018: Italy – Switzerland – Netherlands

Setelah bertahun-tahun nggak pernah ‘kembali’ ke Eropa, akhirnya di pertengahan tahun 2018 saya balik lagi ke benua ini. Yang lebih berkesannya lagi, trip kali saya jalani dengan keluarga saya! Sebagai keluarga dengan kedua orangtua yang bekerja dengan pekerjaan yang membutuhkan banyak traveling, dan dua adik yang sudah besar dan sibuk sendiri sama aktivitas mereka masing-masing, liburan tahun ini menjadi waktu terlama kami menghabiskan waktu bersama selama (hampir) 10 hari. Tentu jadi yang paling berkesan juga ūüôā

 

Liburan ini pun sebenarnya sudah direncanakan jauh-jauh hari sejak Januari 2018, agar kita bisa memesan akomodasi secepatnya berhubung kita mau liburan di musim panas. Pro tip: Kalau mau liburan ke Eropa di musim panas, baiknya sudah memesan akomodasi dari jauh hari (saya pribadi memesan dari sekitar pertengahan Februari/awal Maret) agar bisa mendapat akomodasi yang harganya masih masuk akal. Karena di Eropa, musim panas (sekitar Mei akhir sampai Agustus pertengahan) akan menjadi peak season turis dari mancanegara. Salah satu alasannya adalah karena musim panas juga merupakan waktu sekolah di Eropa berlibur.

 

Setelah ngobrol, kita pun memutuskan untuk mengunjungi Italia dan Swiss, terus lanjut ke Belanda.

Kenapa ke tiga negara itu? Sesimpel, di Itali ada banyak tempat yang ingin kita kunjungi, Di Swiss kita ingin melihat landscape nya, dan terakhir ke Belanda karena kita punya  keluarga yang tinggalnya di  Belanda. Cerita detil tiap hari sebenarnya ingin saya buat menjadi post terpisah, jadi secara singkat seperti inilah perjalanan kami di Eropa:

 

DAY 1

Sampai di Roma sekitar pukul dua siang setelah perjalanan dari Jakarta sejak sehari sebelumnya, dengan transit di Abu Dhabi. Sambil menolak tukang taxi ilegal yang kerap menawarkan jasanya di Fiumicino Airport, kami menaiki bus dan dijemput oleh host Airbnb kami di halte bus. Kalau¬† dari airport Roma, bakal¬† ada beberapa¬† bus service yang menuju¬† langsung pusat kota dan harganya sekitar 10 Euro. Tiketnya bisa dipesan online (search aja di Google “bus from FCO to Rome!) tapi tiket juga bisa dibeli on the spot kok! Setelah check in, kami berjalan-jalan mengelilingi kota Roma – Spanish Steps, Trevi Fountain, semuanya dijabanin sore itu sampai akhirnya kami menuju kawasan Trastevere dan makan malam di salah satu Trattoria murah meriah (untuk standar Eropa – apalagi kota turis seperti Roma) bernama Ristorante di Carlo Menta.

 

DAY 2

Setelah sarapan, kami pun menuju Vatican. Tapi, karena saya sudah pernah masuk ke Vatican dan tidak merasa ngin mengikuti tur selama dua jam itu, saya  pun memisahkan diri dan berjalan-jalan sendiri Рhighlight random solo walk itu adalah mengunjungi perpusatakaan publik tertua di Eropa, Angelica Library. Sayangnya saat itu sedang ada semacam acara seminar di dalam perpustakaan, saya pun tidak bisa berlama-lama. Setelah bertemu dengan keluarga saya di depan Vatican, kami makan siang, kemudian menuju Colosseum. Sekitar pukul 7 malam yang masih terang, kami kembali ke rumah dan memasak makan malam (Dimana saya harus bereksperimen sedikit masak nasi pake panci Рkenapa sih orang Eropa jarang ada yang punya rice cooker!?! Рya jarang masak nasi sih tapi kan padahal ngerebus pasta juga bisa pake rice cooker…).

 

DAY 3

Memulai hari cukup pagi, saya dan kedua adik saya berjalan-jalan lagi ke area Trevi Fountain, yang jauh lebih sepi karena masih jam 8 pagi! Lalu, dibekali google maps saya pergi ke salah satu kafe di dekat Pantheon dimana saya mendapatkan my first authentic Italian coffee experience dimana kami harus minum kopi sambil berdiri di depan bar nya! Lalu, kami mengunjungi Pantheon, kemudian membereskan koper dan menuju stasiun kereta untuk menuju Florence.

 

(Nantikan post triple threat of Rome – highlight untuk makanan (dan kopi, ofc! It’s Italy) yang jadi ‘keharusan,’ atau sangat sayang dilewati saat sedang berada di Roma!)

 

Sesampainya di Florence dan setelah check in di Airbnb kami yang kedua, kami melihat Florence Cathedral dan berjalan-jalan mengitari Florence. Sore itu kami banyak mengunjungi toko-toko souvenir yang gemas, suka banget deh sama kota Florence, apalagi kota tua-nya, dimana rasanya tiap gang punya cerita dan sentuhan personal masing-masing toko yang menghiasi jalanan berbatu nya!

 

DAY 4

Pagi-pagi, saya sudah mengantri membeli tiket untuk memasuki Uffizi Gallery, salah satu dari banyak museum super terkenal di Florence. Pro tip dari saya, adalah membeli tiket secara online dari sebelum datang ke sini dan mencetaknya, karena ternyata  mengantri membeli tiket bisa menghabiskan 15-20  menit sendiri, jadi sayang waktu kan.

Karena waktu yang terbatas, pas di Florence kita hanya sempat mengunjungi salah satu museum saja. Pilihan saya jatuh pada Uffizi, dan saya tidak menyesal! Akhirnya bisa melihat beberapa lukisan yang selama ini cuma bisa lihat fotonya saja, padahal saya juga tidak terlalu suka gaya lukisan dan patung Renaissance Era, tapi tetap jadi highlight kunjungan saya ke Florence.

Setelah makan siang, kami kembali ke Airbnb karena merasa lelah dan sempat tidur siang (hehe). Sore hari, kami pun menuju Piazzale Michelangelo sambil melewati Ponte Vecchio, jembatan yang dipenuhi toko emas dan dipadati oleh turis! Seru juga melihat-lihat tiap toko emas yang berada di jembatan tersebut, walau saya gak akan beli juga. Sore pun kami lewati di Piazzale Michelangelo, sebuah plaza di atas bukit dimana kami bisa memerhatikan lanskap kota Florence yang cantik, sebelum makan malam di salah satu restoran Mediterania yang kami temui di jalan dan kembali ke rumah Airbnb.

 

DAY 5

Pagi-pagi, kami menggunakan taxi yang dipesankan oleh Host Airbnb kami menuju stasiun untuk mencapai destinasi berikutnya: kota La Spezia yang berada di provinsi Liguria, homebase untuk mengunjungi Cinque Terre ūüôā

Berkat kebaikan airbnb host kami yang membolehkan kami check in pagi-pagi, kami pun masuk apartemen dan beres-beres, lalu berjalan-jalan melihat kota. Sesampainya di pelabuhan, dengan impulsifnya kami langsung beli tiket untuk naik tour boat yang mengunjungi Portofino dan Cinque Terre! Hari pertama, kami banyak berada di kapal dan melihat-lihat tiap kota dari kapal, dan berhenti di Monterosso (kota terjauh dari La Spezia) untuk makan siang sekitar jam 2-3 siang. Kami juga turun lagi dari kapal di kota (atau mungkin lebih tepat disebut ‘desa’ ya?) Vernazza, dan mengelilingi kota yang cukup kecil tersebut, dimana Ibu membeli beberapa souvenir.

 

Sore itu, kami kembali cukup cepat ke apartemen sebelum membeli bahan makanan di supermarket di kota La Spezia dan menikmati makan malam di apartemen.

 

DAY 6

Hari mengunjungi Cinque Terre lagi! Tapi kali ini, kami menggunakan kereta sebagai moda transportasi utamanya. Ada daily ticket seharga 12EUR yang  bisa digunakan seharian secara bebas untuk mengunjungi semua kota Cinque Terre. Kami pun turun di tiga kota  yang belum kami kunjungi di hari sebelumnya, yaitu Riomaggiore, Manarola, dan Corniglia.

 

Dari Riomaggiore ke Manarola, sebenarnya ada track hiking yang cukup gampang dan hanya memakan waktu sejam, namun saat kami datang track tersebut sedang ditutup sehingga kami hanya menggunakan kereta. Untuk ke Corniglia, butuh sedikit perjuangan karena kota nya berada di atas jurang, dan dari stasiun menuju kota kita harus menggunakan bus kecil yang selalu penuh penumpang!

 

Sekitar sore hari pada pukul 6 (karena sedang musim panas, matahari baru tenggelam sekitar pukul 9 malam. Jadi, walau sudah sore pun masih sangat cerah) kami kembali ke apartemen. Satu hal yang harus diingat saat sedang dalam perjalanan seperti ini, apalagi kalau pergi dengan orangtua, adalah kita harus menggunakan energi dengan efektif dan tidak terlalu memforsir diri. Beda usia juga akan memengaruhi kekuatan tubuh dan energi untuk menghabiskan waktu. Jadi, walau saya masih ingin melihat-lihat, kami tetap kembali ke apartemen sebelum matahari terbenam agar bisa mendapat istirahat yang cukup.

 

(Nantikan post khusus tentang serba-serbi mengunjungi Cinque Terre!)

 

DAY 7

Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 5, kami menaiki kereta dari La Spezia menuju Milan untuk transit sebentar sebelum menaiki kereta selanjutnya menuju Swiss, tepatnya di Kota Lucerne. Hari itu kami melihat-lihat lanskap kota Lucerne, disusul dengan makan malam di salah satu restoran tertua di Lucerne bersama kolega Ibu, dan diakhiri dengan melihat-lihat kota Lucerne yang damai, mulai dari Lion Monument sampai Chapel Bridge, sembari berjalan kembali menuju Airbnb kami. Kota Lucerne cukup kecil, jadi sebenarnya setengah hari juga cukup untuk mengelilingi kota.

 

DAY 8

Pengalaman menarik di hari ke-8 ini adalah menaiki kereta vertikal menuju puncak Gunung Pilatus! Walau sedang musim panas tepat di tengah bulan Juni, di atas gunung yang bersalju pun masih dingin sehingga bomber jacket yang saya kira hanya akan dipakai dalam pesawat pun harus diutilisasi. Setelah sightseeing kami pun menuruni gunung dengan cable car, melihat peternakan sapi selagi menuruni gunung. Saya baru mengerti kenapa kaus-kaus souvenir dari Swiss tuh gambar sapi semua, sapinya sehat-sehat banget bentuknya disini.

 

DAY 9

Hari yang kami habiskan di airport Zurich, karena harus check out pagi dari apartemen Airbnb dan memutuskan untuk menunggu di airport. Sebenarnya, ada kereta menuju Zurich dari aiport di Zurich kalau mau sightseeing, tapi harga  tiket kereta tersebut cukup mahal belum lagi waktu kami yang terbatas, kami memutuskan untuk duduk-duduk di airport saja. Sesampainya di Belanda, kami dijemput oleh tante saya yang tinggal di Belanda dan menuju rumahnya di Leiderdorp. Hari ini pun kebetulan bersinggungan dengan hari summer solstice, yaitu hari dengan musim panas terpanjang. Makan malam di rumah yang hangat sambil melihat komorebi di antara pepohonan depan rumah, menyenangkan banget rasanya kembali ke Belanda! Untuk saya, rasanya seperti pulang karena kita punya keluarga yang tinggal di sini.

 

DAY 10

Hari ini kami mengunjungi Den Haag di siang hari, setelah pagi hari dihabiskan untuk leyeh-leyeh di rumah. Kayaknya hari ini kebanyakan saya gunakan untuk belanja sih, berhubung  summer sale sudah dimulai di Eropa. Di Eropa, pada musim panas dan musim dingin biasanya akan ada sale besar-besaran di toko-toko karena mereka harus menghabiskan stock musim sebelumnya, untuk memasuki musim baru. Tapi, biasanya stock musim dingin yang dijual pada musim panas bukan hanya jaket atau pakaian tebal saja, sehingga ada juga pakaian yang bisa saya beli dan masih wearable di negara tropis. Malam nya, kami pun pulang ke rumah dan makan lamb chop rumahan.

 

DAY 11

Hari terakhir yang pada akhirnya diisi dengan berbelanja oleh-oleh dan packing untuk saya, karena merupakan hari saya pulang kembali ke Indonesia. Diantar oleh oom, saya dan kedua orangtua sampai ke Schiphol dan menaiki pesawat kembali ke Indonesia. And that was the end of my family trip in Europe!

 

Liburan selama hampir dua minggu bersama keluarga itu menyenangkan banget, walau tentu tidak akan lepas dari berantem-berantem kecil. Apalagi untuk keluarga saya yang jarang menghabiskan waktu bersama, sedikit aneh namun nyaman rasanya karena kita punya 10 hari terus bersama-sama tanpa ada orang lain sama sekali, tidak seperti kalau di Indonesia. It was a trip that I will remember my whole life for sure, for there were so many laughable moments that only we would understand. That time were ours, and ours only.

 

√Ä bient√īt,

Sarah A.

Leave a Reply